MAHAR POLITIK

 

Menjelang pilkada serentak di banyak daerah semua kontestan bersaing untuk mendapatkan simpati dari masyarakat sekaligus bersaing untuk mendapatkan dukungan dari partai politik yang memiliki kuasa untuk mengusung para kandidat untuk berkompetisi dalam pilkada.

Berbagai strategi, pendekatan dan pengamatan dilakukan baik oleh partai maupun kandidat untuk mendapatkan simpati dan sekaligus elektabilitas untuk dapat diakomodir dan tergabung didalamnya, kondisi ini berlangsung dalam beberapa pekan diawal tahun ini, rangkaian proses panjang dilalui bersama akhirnya terjawab pada tanggal 8-10 januari, mereka yang mendapatkan dukungan dari partai politik telah mendaftarkan diri untuk bersaing menduduki jabatan kepala daerah baik gubernur maupun bupati/walikota. Dalam rangkai peristiwa ini banyak pihak yang di akomodir namun banyak pula tidak di akomodir, banyak yang senang, banyak pula yang kecewa oleh karena berbagai syarat yang telah di tentukan oleh partai politik itu sendiri.

Proses yang dilalui oleh para pihak dapat dikatakan sesuai dengan mekanisme yang telah ditentukan namun dengan berjalannya waktu semua kalangan dikagetkan dengan salah satu peristiwa yang hangat diberitakan oleh media massa saat ini adalah MAHAR POLITIK, yang membuat semua elemen tersentak dan tidak percaya akan peristiwa ini, sebagaimana yang telah disampaikan oleh salah satu kontestan La Nyalla Mattalitti yang tidak masuk dalam bursa pencalonan Calon gubernur Jawa Timur menarik untuk disimak.

Sebagaimana diketahui dari berbagai media cetak dan elektronik batalnya La Nyalla Mattalitti yang juga adalah kader internal Partai untuk maju sebagai Calon gubernur tersebut, terkait besarnya mahar politik yang harus dibayarkan untuk mendapatkan dukungan dari partai politik ungkapnya.

Kendatipun kemudian beberapa politisi dari partai yang di tudingnya sedang mengklarifikasi berita yang menimpa partainya itu bukan sebagai “mahar” tetapi uang saksi dan biaya operasional persiapan pelaksanaan pemilu kada di wilayah tersebut bahkan dalam salah satu media elektronik dalam program ILC sudah membahasnya.

Namun situasi ini belum cukup mampu meyakinkan masyarakat terhadap klarifikasi dimaksud. guratan tanda Tanya Nampak jelas apakah ini benar,,, apakah harus demikian… kini masyarakat menunggu jawaban pasti dari yang tersolimi. entah benar atau tidak berita yang selama ini di sebarkan tentunya perlu ada jawaban agar setiap insan mendapatkan jawaban yang pasti.

Mahar politik dapat diartikan sebagai suatu ketamakan yang sedang di lakukan oleh orang, kelompok, organisasi untuk mendapatkan kuasa, kekuasaan dengan menggunakan mahar akan berdampak buruk bagi tatanan kehidupan berdemokrasi kita, mencari pemimpin dengan cara membeli dan membayar adalah sebuah cara yang tidak terpuji, keji dan busuk karena tanpa di sadari sebenarnya mahar politik sedang mempertontonkan ketidakmampuannya untuk menggerakkan individu, kelompok, organisasi di satu sisi dan sisi lainnya ketidakmampuannya dalam memberikan pendidikan politik yang baik sekaligus kehadirannya bukan untuk menyalurkan aspirasi masyarakat namun lebih kepada untuk kepentingannya.

Mahar politik memberikan kesan negative akan kepercayaan publik terhadap siapapun yang memulai melakukannya baik sebagai individu, kelompok maupun organisasi. kondisi ini selain mencederai partai yang di tuju juga mencederai semangat demoratisasi yang telah kita bangun, jaga dan lestarikan. Lalu apa maknanya kita bernegara yang berlandaskan pancasila bila dalam menentukan pemimpin harus dengan cara membeli dan membayar??? semangat kebangsaan kita adalah semangat pancasilais yang mengedepankan menjaga, menghormati dan melindungi warga Negara, atas dasar yang kokoh inilah kita ada dalam satu balutan Negara kesatuan republik Indonesia yang berdaulat.

Ibu pertiwi menangis melihat anak bangsa yang telah melunturkan dirinya dalam noda keserakahan, kepemimpinan dibeli, kepemimpinan dijual hanya untuk memuaskan napsu insani. Sadarkah kita bahwa pemimpin itu bukan soal kuasa namun pemimpin lebih pada untuk melayani yang terus menyuarakan kebaikan, membantu mereka yang miskin, menarik rakyatnya yang rentan menuju sebuah perubahan sosial yang diidam-idamkan oleh anak bangsa.

STOP MAHAR POLITIK…..

Syalam Demokrasi…..

Penulis : Umparu Rangga Landuawang

Staf Bengkel APPeK NTT

Related posts

Leave a Comment