Diduga Lakukan Penipuan & Penggelapan, PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang Dilaporkan Ke Polda NTT

Kupang,SuryaKupang –Dalam eksekusi perbankan seharusnya pihak Kreditur memberitahu pihak Debitur (Nasabah) tentang adanya kesepakatan perjanjian kredit antara kedua belah pihak. Namun apa yang dialami (AM) sebagai Istri sah dari almarhum Wellem Dethan debitur dari PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang, tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkan.

Demikian yang disampaikan Pendiri, Pengawas, sekaligus Advokat pada Lembaga Bantuan Hukum ( LBH) Surya NTT, Herry F.F. Battileo, SH.MH, selaku kuasa hukum dari (AM) dalam konferensi pers bersama awak media, Senin ( 17/06/2019) malam.

Merasa tidak puas akan hal ini akhirnya AM ( Pelapor) dalam hal ini sebagai Istri sah dari almarhum Wellem Dethan debitur dari PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang,  bersama kuasa Hukumnya, Herry F.F.Battileo,SH.MH akhirnya melaporkan PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang ke Polda NTT pada tanggal 22 Mei 2019 lalu dengan laporan Polisi Nomor : LP/B /184/V/RES.1.11/2019/SPKT dan Surat Tanda Terima Laporan Polisi Nomor: LP/B/184/V/RES.1.11/2019 atas dugaan melakukan penipuan dan penggelapan atas 2 ( dua ) SHM yang dijadikan sebagai obyek hak tanggungan sebagaimana diatur dalam pasal 378 dan pasal 372 KUH Pidana.

Menurut Herry, AM adalah istri sah dari almarhum Bapak Wellem Dethan sebagai debitur pada PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang, semasa hidup suami dari pelapor (AM) telah ada ikatan perjanjian kredit dengan PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang. Suami dari pelapor (AM) meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2018 yang dibuktikan dengan kutipan Akta Kematian yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Kupang nomor: 5371-KM-03012019-0003

Dikatakan, secara sepihak sebagai Kreditur ( PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang) memberikan surat peringatan kepada (AM) dalam hal ini sebagai istri  sah dari almarhum Wellem Dethan untuk  melunasi hutang kreditnya di PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang yang notabene tidak ada surat perjanjian antara Pihak PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang (Kreditur) dengan AM.

Menurut Herry, jadi ekseskusi perbankan itu seharusnya pihak Debitur diberitahu oleh pihak Kreditur harus ada kesepakatan dalam perjanjian, namun ini tidak ada perjanjian, nah, hal inilah yang menjadi pertanyaan kami bahwa pada saat pihak Kreditur ( PT.BPR. Christa Jaya Perdana Kupang) mengeksekusi kepada suaminya, dia ( AM) tidak mengetahui dan tidak serta merta penaggung jawab sebagai beban hukum langsung diberikan ke dia (AM).

Namun ketika suami  dari AM meninggal sudah berapa lama baru pihak  Kreditur ( PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang ) memberitahu  bahwa (AM) memiliki hutang di PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang dan langsung diberikan Surat Peringatan (SP)

“ Nah hal ini keliru, ketika suaminya sudah meninggal berarti beban hukum tidak boleh dibebankan kepada (AM) karena sudah ada aturan perbankan dan apalagi  tidak ada perjanjian”, jelas Herry.

Disini juga tidak ada surat perjanjian suami –istri apabila suami meninggal beban hukum ditanggung oleh sang istri , jadi sepihak dan tidak ada surat perjanjian yang menyatakan bahwa bila suami meninggal dunia beban hukum ditanggung oleh dia, tambah Pendiri,pengawas sekaligus Advokat pada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surya NTT ini.

Awalnya memang ada surat perjanjian tapi kredit yang pertama itu sudah lunas, dan terus buat lagi tapi dari pihak PT. BPR Christa Jaya Perdana Kupang mengatakan tidak perlu buat lagi perjanjiannya, terus suami dari (AM) ini meninggal dan apakah harus dibuat perjanjian lagi, gimna sih…hal ini yang keliru dan dipertanyakan, kata ketua OPSI NTT ini.

Kronologis masalah

Rangkaian kronologis pemberian fasilitas kredit Modal Kerja ( KMK) dari PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang selaku kreditur dan Wellem Dethan almarhum selaku debitur bahwa perjanjian keluar jaminan pada tanggal 3 januari 2017,dikarenakan baki Debet Kredit Peminjaman/Debitur Wellem Dethan Almarhum( Istri Pelapor) telah menjadi sebesar Rp.0 ( Nol Rupiah). Akan tetapi dari 3 ( tiga) objek hak tanggungan, yang dikeluarkan/diroya adalah mobil Toyota Rush 1.5 MT, Tahun 2000, Nomor mesin 3SZ-DAD6031,nomor rangka MHFE2CJ2J7K002068,Nomor Polisi DH.1447,An.Marice Malo, sedangkan sisa dua jaminan berupa sebidang tanah bangunan SHM Nomor: 166 seluas 488 m2  An. Wellem Dethan di Kelurahan Sikumana dan sebidang tanah bangunan SHM Nomor: 168 seluas 334 m2, An.Wellem Dethan di Kelurahan Sikumana, belum dikembalikan oleh PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang sampai sekarang ini.

Kemudian pada tanggal 6 Maret 2019 Pelapor ( AN) mendapat surat pemberitahuan dari PT.BPR.Christa Jaya Perdana Kupang yang beralamat di Jalan Frans Seda Nomor: 16 Fatululi Kupang, dengan surat nomor: 265/BPR-CJP/SP/II/2019, tertanggal 20 Februari 2019 yang isinya menerangkan bahwa pelapor (AN) selaku ahli waris dari Debitur Bapak Wellem Dethan belum menyelesaikan tunggakan dengan saldo kredit sebesar Rp.224.000.000,-( Dua ratus dua puluh empat juta rupiah)

Selanjutnya surat pemberitahuan sebagaimana pada angka 1, disatukan dengan surat peringatan 1, dengan surat nomor : 265/BPR/-CJP/SP/II/2019, yang diterima oleh pelapor (AM) pada tanggal 6 Maret 2019 yang pada pokoknya menyatakan paling lambat sebelum tanggal 27 Februari 2019 Pelapor (AM) tidak memenuhi kewajiban atas saldo kredit sebesar Rp.224.000.000,-( Dua ratus dua puluh empat juta rupiah) sebagaimana yang disebutkan pada angka I, pihak BPR Christa Jaya Perdana Kupang selaku kreditur akan mempublikasikan, melelang dan mengeksekusi barang jaminan milik debitur Wellem Dethan almarhum.

Atas surat pemberitahuan dan surat peringatan I, terlapor mendatangi kantor PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang, ternyata diketahui bahwa pihak PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang telah secara sepihak dan tanpa sepengetahuan pelapor (AM) selaku istri sah dari Wellem Dethan almarhum telah mendroping pinjaman kepada Wellem Dethan almarhum sebesar Rp.110.000.000,-( seratus sepuluh juta rupiah) tertanggal 8 april 2017 dan droping pinjaman sebesar Rp.200.000.000,-( dua ratus juta rupiah) tertanggal 19 Juli 2017, dan ditemukan juga fakta bahwa droping pinjaman tersebut tidak ada perjanjian kredit.

Oleh karena tidak ada perjanjian kredit atas droping pinjaman tersebut maka pelapor (AM) selaku istri sah dari Wellem Dethan almarhum meminta kepada PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang untuk segera mengembalikan secara patut sisa dua objek hak tanggungan yakni sebidang tanah bangunan SHM nomor: 166 seluas 448 m2 An.Wellem Dethan di Kelurahan Sikumana dan sebidang tanah bangunan  SHM nomor: 168 seluas 334 m2 An.Wellem Dethan di Kelurahan Sikumana, tapi tidak dikembalikan sampai saat ini.

Berdasarkan fakta sebagaimana yang telah disebutkan pihak Pelapor (AM) selaku ahli waris dan istri sah dari Wellem Dethan almarhum, akhirnya bersama kuasa hukumnya Herry.F.F.Battileo SH.MH pada tanggal 22 Mei 2019 telah melaporkan ke Polda NTT dengan Laporan Polisi Nomor : LP/B/184/V/RES.1.11/2019/SPKT  dan Surat Tanda Terima Laporan Polisi Nomor: LP/B/184/V/RES.1.11/2019 atas dugaan melakukan penipuan dan penggelapan atas 2 ( dua ) SHM yang dijadikan sebagai obyek hak tanggungan sebagaimana diatur dalam pasal 378 dan pasal 372 KUH Pidana.

Terkait laporan ke Polda NTT, Pihak PT.BPR.Christa Jaya Perdana Kupang melalui Wilson, Maneger Marketing Bank Christa Jaya Perdana Kupang mengadakan jumpa pers yang diadakan Selasa (18/06/2019) sore, di ruang rapat PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang untuk mengklarifikasi hal ini.

Menurut Manager Marketing PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang, Wilson, mengatakan, berkaitan dengan tidak adanya penandatanganan perjanjian kontrak kredit oleh Pihak AM ( Istri almarhum Wellem Dethan) itu tidaklah benar seperti yang disampaikan oleh pihak AM.

Penandatanganan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) Kredit itu ada bahkan SPK kreditnya pun ditandatangani oleh Wellem Dethan almarhum dan AM ( suami – istri ) ini dan SPK tandatangan itu semuanya ada.

Perlu saya sampaikan lagi bahwa almarhum Wellem Dethan ini merupakan nasabah terlama PT.BPR Crista Jaya Perdana kira – kira belasan tahun mungkin bahkan sejak BPR ini ada, almarhum Wellem Dethan sudah bekerjasama dengan kita.

“ Jadi kami dengan almarhum Wellem Dethan bukan hanya kenal kemarin, dan memang Beliau adalah adalah salah satu nasabah prioritas BPR Christa Jaya dan beliau nasabah yang sangat luar biasa bagus, sangat hebat karena tidak pernah mengalami masalah keuangan,”tutur Wilson

Setiap kali melakukan proses pinjaman kredit selalu diselesaikan bahkan lebih duluan, walaupaun jangka waktunya masih panjang pasti beliau selalu lunas duluan, jadi tred record almarhum sangat bagus

“ Makanya beliau adalah nasabah spesial dan prioritas dari PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang,sehingga perlakuan kita terhadap almarhum juga khusus karena  beliau ini istilahnya kita tutup mata saja pasti amanlah, tidak perlu tagih pasti almarhum bayar lancar bahkan almarhum bayar sebelum jangka waktu,”ungkap Wilson.

Kemudian juga untuk diketahui, tambahnya, keunggulan kita disini adalah kita punya sistem produk kelonggaran tarif, jadi misalnya nasabah yang jangka waktu kreditnya perjanjian kreditnya ( PK) masih hidup atau aktif, walaupun dia sudah bayar lunas dan ditanggal sebelumnya dia mau ambil lagi atau perpanjang lagi kita tidak persulit tapi cukup saja dengan menandatangani slip penarikan uang longgar tarik itu, otomatis kita bisa cairkan proses kreditnya.

Tetapi lain cerita jika jangka waktu kreditnya ini sudah mati maka perjanjian kreditnya harus ditandatangani oleh suami – istri dan itu berlaku di hampir semua nasabah kita di PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang.

Jadi longgar tarik itu adalah perlakuan khusus kita buat almarhum Wellem Dethan dan pada saat perjanjian kredit ditandatangani itu disaksikan juga oleh AM ( istri Almarhum Wellem Dethan).

“ Jadi AM ( istri almarhum Wellem Dethan ) juga ikut menandatangani dan semua SPK kreditnya ada”, jelas Wilson

Bahkan yang menjadi dipermasalahkan AM ( Istri Almarhum Wellem Dethan) itu kelihatannya waktu akmarhum mengambil uang, AM tidak mengetahui karena semua uang ini masuk ke rekening almarhum Wellem Dethan, lain hal jika pada saat perjanjian kredit maunya ditanda tangani berdua, berarti kita membuat dua rekening atas nama Wellem Dethan almarhum dan AM ( Istri almarhum).

Tapi karena rekening ini hanya atas nama Wellem Dethan almarhum, uang yang masuk itu dan uang yang ditarik itu hanya bisa ditandatangani satu orang saja yakni ditandatangani oleh almarhum Wellem Dethan saja dan uangnya bisa diambil tetapi untuk perjanjian kreditnya itu harus ditandatangani oleh kedua belah pihak almarhum Wellem Dethan dan AM( Istri almarhum).

Dikatakan,mungkin yang ingin saya perjelas  lagi disini, AM( Istri almarhum) ini keliahatannya tidak mengakui adanya hutang di PT,BPR Christa Jaya Perdana Kupang, karena kalau misal almarhum Wellem Dethan ini masih ada saya rasa beliau adalah nasabah yang sangat baik bahkan almarhum Wellem Dethan mungkin masuk dalam 10 besar nasabah terbaik dari PT.BPR Christa Jaya Perdana Kupang untuk kredit.

Tapi karena ada masalah seperti begini,nah hukum di negara Indonesia adalah hukum ahli waris jadi setiap piutang ataupun harta yang ditinggalkan oleh suami atau istri secara otomatis turun ke ahli waris seperti yang dikatakan pengacara Hotman Paris Sitompul,bahwa hukum Indonesia adalah hukum ahli waris jadi kalau punya utang otomatis akan turun ke ahli waris,kata Wilson.

Kemudian terkait laporan yang telah sampai ke Polda NTT, Pihak PT.BPR Bank Christa Jaya Perdana Kupang akan tetap mengikuti proses yang ada dengan memperhatikan aturan yang berlaku sesuai prosedur. ( Agus Kefi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

94 total views, 1 views today

Related posts

Leave a Comment