WAGUB, APRESIASI KINERJA PETUGAS SAR

Kupang,SuryaKupang – Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, MM meminta segenap petugas SAR untuk meningkatkan kemampuan fisik maupun kompetensinya. Tujuan  Search And Rescue (SAR) menurut Undang-Undang Nomor 29 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan  adalah bukan  menghilangkan kecelakaan, tetapi terutama mengurangi kefatalan dari kecelakaan.

“Petugas SAR adalah manusia setengah dewa yang bertugas menyelamatkan nyawa manusia. Keterampilan yang dimiliki anak-anak SAR harus lebih dari orang yang ditolong bahkan manusia lainnya. Harus  bisa menyelam tanpa ada alat, juga harus  bisa terbang dalam arti meloncat untuk bantu orang. Itu luar biasa, butuh latihan yang tekun,”jelas Wagub Josef Nae Soi saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan Rapat Koordinasi  (Rakor) Pencarian dan Pertolongan Kantor SAR atau Kantor Pencarian dan Pertolongan  Kelas A Kupang di Hotel Neo Aston, Senin (29/7).

Menurut Wagub Nae Soi, upaya penyelamatan sangat bergantung pada sumberdaya manusia yang dimiliki Badan SAR. Syarat mutlak seorang petugas SAR adalah memiliki fisik prima, sehat jasmani dan rohani serta punya kompetensi.  Kalau mau menyelamatkan orang, fisik penyelamat harus kuat.

“Kerja SAR itu, satu kakinya adalah menjadi juga calon almarhum. Dia menyelamatkan orang, belum tentu dia sendiri bisa selamat. Tapi prioritas utamanya adalah menyelamatkan orang lain terlebih dahulu.Kalau mau menyelamatkan, fisik kita harus prima. Saudara-saudara harus siap 2 kali 24 jam. Bila perlu kalau waktu ditambah 36 jam, 36 jam harus siap. Karena waktu kecelakaan tidak bisa kita duga,” jelas mantan anggota Komisi V DPR RI itu.

Lebih lanjut, politisi Golkar itu juga mengharapkan agar kompetensi khususnya keterampilan anak-anak SAR mesti terus ditingkatkan. Sebelum menyadarkan masyarakat akan pentingnya keselamatan, petugas SAR harus terlebih dahulu menyadari pentingnya keselamatan diri, bukan sekadar rutininitas kalau ada bencana. Habitat SAR adalah diri sendiri juga prima, sadar keselamatan atau _safety no compromise_ harus dijelaskan kepada masyarakat.

“Jangan sampai loncat dari kapal dengan kaki rapat,terjun ke bawah mau bantu orang,tapi kedua kakinya patah. Tidak tahu upaya penyelamatan di laut seperti _Based Safety Trainning_ (BST) atau Latihan Keselamatan dasar, tidak tahu cara buka _Life Raft di kapal. Semua keterampilan-keterampilan ini wajib diketahui oleh anak-anak SAR. Begitupun juga dengan di udara, saat gedung rubuh atau gempa bumi,” tegas  pria asal Ngada tersebut.

Di akhir sambutannya, Wagub Nae Soi mengapresiasi kinerja petugas SAR yang telah bekerja keras dalam upaya penyelamatan korban kapal Motor Nusa Kenari 02 yang tenggelam di perarian Alor pada Sabtu (15/6).

“Walaupun arus laut Alor luar biasa derasnya, tapi anak-anak SAR NTT sangat hebat dalam upaya penyelamatan para korban. Pertahankan kinerja anda, terus belajar. Belajar tidak boleh berhenti. Dengan teknologi-teknologi modern, kita bisa meningkatkan keterampilan kita,” pungkas Wagub Nae Soi.

Sementara itu Direktur Operasi Badan SAR Nasional (Badarnas) Brigjen (Mar) Budi Purnama dalam arahannya mengatakan seturut amanat UU Nomor 29 tersebut, Basarnas memiliki tugas pokok untuk laksanakan pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan transportasi. Namun karena ada panggilan tugas lain yang berkaitan dengan pencarian dan pertolongan, maka kita juga ikut terlibat dalam kecelakaan dengan penanganan khusus. Artinya kecelakaan tersebut merupakan kecelakaan berat.

“Basarnas juga terlibat dalam penanganan bencana terutama kebencanaan dalam tanggap darurat. Kita bersama potensi penanggulangan bencana lainnya seperti TNI/Polri dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau BPBD di daerah sebagai _leading sector_ juga berupaya membantu korban yang terjepit atau terperangkap. Petugas SAR juga punya kewajiban menolong kecelakaan yang membahayakan jiwa manusia seperti kebakaran atau orang terperangkap dalam sumur. Silahkan hubungi call center Basarnas 115,” ungkap Budi Purnama.

Lebih lanjut Budi menjelaskan, Basarnas  membutuhkan kolaborasi dengan potensi penanganan kecelakaan dan bencana lainnya. Karena secara personil dan material, Basarnas masih sangat terbatas. Sampai dengan bulan Juni 2019, masih  di angka 32 persen, jauh dari ideal yang diharapkan. Basarnas terutama  masih kekurangan peralatan utama di laut.

“Garis pantai Indonesia yang sangat panjang dengan lebih dari 17.500 pulau, tak heran lebih dari 600 kasus dalam setiap tahunnya, kita menangani  saudara-saudara kita yang melaut dan tidak kembali. Karena mati mesin dan  kapalnya bocor. Kami berterima kasih kepada TNI AL, Polisi Air dan semua jajaran masyarakat maritim yang terlibat aktif membantu kami,” pungkas Budi Purnama.

Wagub Wajibkan Kapal Penyeberangan PD Flobamor Pakai Alat Pengingat Kecelakaan

Dalam kesempatan itu, Budi Purnama juga menyinggung tentang rendahnya penggunaan alat deteksi sinyal marabahaya pada sarana transportasi udara dan laut. Alat tersebut akan memancarkan dan memantulkan signal dengan frekuensi 406 mega hertz  ke satelit, sehingga kita bisa tahu posisi pesawat atau kapal laut yang dalam keadaan bahaya.

“Alat ini sangat penting agar petugas Basarnas dapat cepat sampai ke lokasi dengan cepat dan tepat. Populasi pengguna alat ini masih sangat rendah. Khusus untuk maskapai penerbangan, alhamdulilah semuanya sudah memasang alat tersebut.Sementara untuk kapal laut, masih sangat rendah. Semestinya, kapal di atas 30 GT wajib memasang alat ini. Sampai saat ini, baru ada sekitar 300 kapal yang memakai alat ini. Penggunaan alat ini memudahkan Basarnas di seluruh Indonesia dapat mengetahui posisi pasti kapal yang sedang dalam bahaya,” jelas Budi Purnama.

Dijelaskannya, untuk kapal nelayan bisa melakukan sharing dana untuk beli alat yang sebesar hp ini. Harganya sekitar 250 dollar. Hal ini semata-mata untuk keselamatan para nelayan.

Menanggapi hal ini, Wagub NTT menyatakan akan mewajibkan kapal-kapal di NTT yang di atas 30 GT harus memiliki alat ini.

“Saya akan minta dinas Perhubungan NTT agar kapal-kapal yang layak berlayar harus dilengkapi dengan alat ini. Kita tidak bisa kompromi dengan hal ini. Masa bisa beli kapal, tapi tidak bisa beli alat ini. Saya akan minimal mulai dengan perusahaan milik Pemerintah Provinsi yang urus kapal  penyeberangan. Secepatnya, saya akan panggil PD Flobamor untuk mengecek apakah kapal-kapalnya sudah ada alat ini atau tidak. Kalau tidak ada, besok harus segera beli karena ini sangat penting keselamatan pelayaran,” pungkas Wagub.

Rakor Pencarian dan Pertolongan Tahun 2019 tersebut  dirangkai dengan kegiatan pelatihan SAR Beregu dan pelatihan Pertolongan Bangunan Runtuh. Pelatihan SAR beregu diikuiti 50 orang dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 29 sampai 31 Juli di Dermaga Navigasi Kupang. Sementara untuk Pelatihan Pertolongan Bangunan Runtuh dengan jumlah peserta 60 orang dilaksanakan di Kantor SAR Kupang selama 5 hari dari tanggal 29 Juli sampai dengan 2 Agustus. Pelatihan ini diikuti peserta dari Kementerian/Lembaga, TNI/Polri, Instansi Potensi SAR,Organisasi Non Pemerintah dan Basarnas.

Dalam kesempatan tersebut,  Wagub menyematkan tanda peserta dan juga memukul gong untuk membuka kegiatan Rakor tersebut.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut Unsur Forkompida Provinsi NTT, Julianita Natalegawa, Kepala IOM Indonesia, Mr. Sonha, Kepala Perwakilan IOM Indonesia Timur, Hendrik Therik, Perwakilan UNHCR NTT,  Kepala SAR Kupang,Emi Frizer, perwakilan Potensi SAR,Dharma Wanita SAR Kupang,insan pers dan undangan lainnya.(Tim)

Related posts

Leave a Comment