SEKILAS SELAYANG PANDANG SMA SANTO ARNOLDUS JANSSEN KUPANG

Kupang,SuryaKupang – “Bulu yang patah terkulai tidak akan diputuskanNya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya” (Mat.12:14-21). Satu Abad enam (106) tahun, bukanlah waktu yang sedikit, berawal dilereng gunung Lakaan, Lahurus, Belu Utara tahun 1913 silam. Kini berawal lagi di Tuak Daun Merah Kupang pada tahun 2019 dan itulah selayang pandang lahirnya Sekolah Menengah Atas Santo Arnoldus Janssen milik SVD (Societas Verbi Divini artinya Serikat Sabda Allah) Timor yang walau sumbunya pudar tapi nyalanya tidak pernah padam hingga kini.

Kepala Sekolah SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang, Pater Petrus Salu, SVD, mengatakan, Kehadiran Lembaga Pendidikan baru: Sekolah Menengah Atas Santo Arnoldus Janssen Kupang ini semata-mata sebagai karya perintisan baru Provinsi SVD Timor untuk mewartakan Sabda Allah yang harus diterjemahkan dalam banyak sisi dan salah satu pewartaan itu melalui pendidikan formal.

“Jadi SVD membuka Lembaga Pendidikan baru ini  tentunya punya alasan utama, yakni SVD sudah berkarya 106 tahun melakukan karya perintisan, mewartakan Sabda Allah dan pewartaan ini harus diterjemahkan dalam banyak sisi bagaimana para perintis adalah Misionaris dari luar negeri datang di Tanah Timor untuk mendampingi masyarakat kecil mulai tahun 1913 silam di Lahurus,” kata Pater Petrus.

Dikatakan, Perintisan awal itu dibawah Pimpinanan Misionaris SVD pertama di Indonesia Pater Petrus Noyen, SVD. Beliau mempunyai pengalaman misi 15 tahun di China Provinsi Shantung Selatan, bekerja sama dengan Misionaris ulung SVD Pertama di Benua Asia yakni Pater Josef Freinademetz,SVD di China dan setelah 15 tahun di sana Pater Piet Noyen,SVD, pindah dari negara China datang membuka misi SVD dan memulai karya perintisan SVD Indonesia mulai di Tanah Timor, Lahurus di lereng gunung Lakaan.

Dikatakan, SVD mulai membangun begitu banyak hal di antaranya mendidik masyarakat Timor dan bayangkan tahun itu orang Timor seperti apa pada 106 tahun silam. Para Pastor dan Bruder berjalan kaki puluhan kilometer, kerja kebun, buka bengkel dan lain-lain.

Para Misionaris melatih masyarakat kecil berkebun, memelihara ternak, mendidik mereka berdagang, dan setelah belasan tahun kemudian sudah waktunya membuka sekolah-sekolah rakyat SR dimana-mana, kemudian berkembang menjadi Sekolah Menengah Pertama. Untuk diketahui waktu itu Negara Indonesia belum ada, yang ada masih kerajaan-kerajaan yang belum ada satu kesatuan tapi SVD sudah terlebih dahulu memulainya sebelum adanya negara Republik Indonesia tercinta ini.

Tak pernah terlintas di benak SVD perihal urusan Negara, yang dilihat dan mau segera dibangun adalah hal hakiki pembangunan kemanusiaan. SVD membangun dari akar yakni mengurus manusianya.

Dikatakan, waktu terus berjalan, Para Misionaris bekerja tanpa pamrih demi masyarakat tercinta. Misionaris luar negeri sungguh berkorban, melebur diri dengan masyarakat kecil, mereka belajar bahasa Tetun, Kemak dan Bunak, serta Bahasa Dawan sebagai bahasa daerah setempat.Kemanapun mereka berada para Misionaris SVD selalu mengenal  dan melebur diri dengan budaya setempat dengan konsep “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”.

Konsep ini sangat tepat artinya dengan konsep ini para misionaris lebih masuk kedalam kehidupan masyarakat setempat baik itu bahasa, budaya dan nafas kehidupan mereka, dengan demikian warta Sabda Tuhan masuk secara perlahan-lahan.

Mereka makan dan minum apa yang yang masyarakat punya. Sebuah adaptasi yang menyakitkan. Bayangkan dari ” kelimpahan Eropa ” mereka harus membaur dengan ” kehampaan Timor “. Banyak Misionaris yang sakit dan meninggal akibat ” kekurangan Timor ” tempo dulu. Harga termahal karya misi dibayar dengan nyawa.

“Jadi, mereka urus perut masyarakat dulu, setelah perut masyarakat kuat dan kenyang barulah para Misionaris mendidik dan mengajarkan mereka berdoa Tanda Salib serta doa-doa Katolik lainnya dan proses ini membutuhkan waktu yang sangat lama,” urai Pater Petrus, kepada media ini, Kamis (1/08/2019), ketika ditemui diruang kerjanya.

Lanjutnya, masyarakat mulai berkembang pembinaan fisik dan nurani mulai tumbuh. Setelah puluhan tahun kemudian baru lahirlah Biara Santo Yosef Nenuk. Dianggap perlu adanya Seminari untuk memperoleh panggilan Pastor dan Bruder pribumi. Maka dibuka beberapa Seminari Menengah seperti Seminari Mataloko, Seminari Lalian dan Seminari Kisol. Beberapa tahun kemudian dibuka Seminari Tinggi Santo Paulus di Ledalero, Maumere, Flores demi pendidikan Imam. Tahun 1920 lahirlah Imam Pribumi pertama yakni Romo Lukas. Selanjutnya para Imam Projo bermunculan tiada hentinya hingga kini. Itulah target utama SVD yakni mendidik dan membesarkan anak – anak pribumi karena hanya merekalah yang tahu nafas dan hakekat terdalam kehidupan lokal.

” Jadi, SVD butuh satu abad untuk melahirkan para Imam Diosesan di pulau – pulau Nusa Tenggara yang sudah lazim disebut ” Romo”, ungkapnya.

SVD mengambil alih misi Tanah Timor ini dari Serikat Jesuit yang datang lebih dahulu yang sudah tidak tahan lagi dengan situasi di daratan Timor pada waktu itu dan pada akhirnya SVD mengambil alih misi tersebut pada tahun 1913 silam hingga hari ini dan seterusnya.

Di tangan SVD, sekolah-sekolah dan paroki-paroki serta aneka ketrampilan mulai bermunculan dan dibangun di mana-mana baik itu di Pulau Timor, Pulau Flores kemudian barulah menyebar ke seluruh pulau-pulau di Indonesia dan hari ini SVD sebagai pengirim tenaga misionaris terbanyak untuk 80-an negara di lima Benua.

Para misionaris SVD mendidik dan mengajar umat dengan sedikit berteori dan banyak berbuat, karena kesulitan berbahasa pada perintisan awal maka lebih banyak mereka memberikan contoh. Semua paroki dan sekolah serta berbagai kegiatan pastoral ditangani oleh para Imam dan Bruder SVD, juga semua Dioses dipimpin oleh para Uskup SVD.  Seluruh umat, para Imam Diosesan, para Suster PRR, CIJ dan Suster Maranatha merupakan hasil didikan dari  SVD yang pada akhirnya terus  berkembang hingga sekarang ini. Secara duniawi biologis boleh dibilang  “ mereka adalah anak-anak kandung Serikat Sabda Allah.”

“Jadi inilah yang disebut sebagai masa perintisan dari SVD terutama dibidang pendidikan formal dan non formal,” terang Pater Petrus.

Setelah Romo-Romo, Imam Diosesan sudah banyak, Uskup-Uskup pribumi sudah ada maka SVD mulai mengundurkan diri dan menyerahkan sepenuhnya kepada para Imam Diosesan untuk melanjutkannya karena pada dasarnya tugas dari SVD hanyalah membentuk dan merintis.

Setelah semuanya sudah mandiri, kemudian SVD mulai memikirkan dan merencanakan hal apalagi yang mau dibuat supaya dengan rencana baru itu SVD bisa bekerja sama lagi dengan para Uskup setempat yang ada di mana SVD berkarya dengan membangun sebuah  komitmen dan kerjasama baru lagi.

Maka SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang ini boleh dikatakan sebagai Lahurus baru, di Kelurahan Tuak daun merah Kupang.

“Di titik inilah kita tidak berbicara lagi tentang perintisan tapi bagaimana Sabda Menjadi Daging. Kita tidak berteori lagi seperti 106 tahun silam tapi kita mau menapaki 106 tahun mendatang dengan berbuat, beraksi dan  tetap mewartakan Sabda Allah di zaman digital.Di titik temu inilah kita merintis dunia baru di abad baru.Saya kira ini sekilas selayang pandang kehadiran SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang ini,” terang Pater Petrus dengan rincinya.

Di lembaga pendidikan ini, kita siapkan semua fasilitas sesuai dengan kebutuhan anak-anak berlandaskan kurikulum 2013 dan untuk sementara semuanya berjalan dengan sangat baik sambil terus melengkapi kebutuhan – kebutuhan yang urgen.

Di bidang akademik, untuk saat ini setiap siswa sudah diwajibkan membeli sebuah buku pengetahuan umum sesuai dengan program pilihan yang ada, kemudian siswa wajib membaca dan meringkasnya dan di tuntun oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, walikelas dan guru bimbingan konseling.

Dengan pengawasan ini anak-anak akan membaca dan meringkas teratur dan jika setahun siswa menghabiskan 2 buah buku, itu sudah bagus dan hal ini diwajibkan di SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang ini.

Selain itu juga tambah Pater Petrus, setiap siswa wajib meminjam buku-buku bahasa ingris yang tersedia sekitar 16 ribu judul yang didatangkan langsung dari Amerika Serikat oleh Pater Feliks Mikel Kosat,SVD, yang ada di perpustakaan SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang dan wajib siswa pinjam dan terjemahkan.

“Mulai hari ini setiap siswa/i sudah diwajibkan meminjam sebuah buku bahasa inggris minimal 100 halaman dan wajib diterjemahkan kedalam bahasa indonesia. Program penerjemahan ini didampingi guru bahasa inggris, semua guru walikelas, wakasek bidang kesiswaan dan wakasek bidang kurikulum.

Dijelaskan, selain para siswa/i bergaul dengan Profesor dan Doktor yang menulis buku itu, anak-anak juga memahami ilmu besar yang ditulis Profesor dan Doktor itu tapi mereka juga mengetahui arti kosakatanya.

“Belajar kosakata yang benar itu seperti ini tapi dengan demikian sesungguhnya para siswa sudah menjadi Doktor untuk dirinya sendiri, sudah kaya kosakata karena belajar melalui konteks maka hal ini merupakan suatu kewajiban bagi siswa/i SMA Santo Arnoldus Janssen,” terangnya.

Setahun satu buku dan kalau lebih itu lebih bagus, taraf pertama para siswa baru datang dari berbagai SMP pasti membaca satu kalimat saja sudah bosan tapi tidak mengapa. Para guru saya sudah minta untuk terus mendampingi siswa/i dan  walaupun sehari hanya mampu terjemahkan satu dua kalimat saja itu sudah sukses dan jika terus begitu dan sampai pertengahan buku mungkin mereka tidak membuka kamus lagi, karena perbendaharaan kosakatanya sudah ada dikepalanya. Inilah belajar konstektual yang multi fungsi.

“Sesuatu yang awal selalu lama tapi lama-lama akan cepat asal tekun dan nekad dan itulah misi besar SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang,” tutup Pater Petrus.(Agus Kefi)

Related posts

Leave a Comment