SMA SANTO ARNOLDUS JANSSEN KUPANG, HADIR UNTUK CERDASKAN GENERASI MUDA, BERBUDAYA & BERKHARAKTER HATI

Kupang,SuryaKupang – Kepala Sekolah SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang, Pater Petrus Salu,SVD, mengatakan, Sekolah Menengah Atas (SMA) Santo Arnoldus Jansen Kupang memiliki visi dan misi besar untuk membangun generasi muda yang cerdas, berbudaya mempunyai hati dan berkharakter.

“Kita membangun intelek tetapi hal terpenting adalah mendidik hati,kalau hati tidak dididik biar pintarnya sampai dilangit tapi tetap saja bobrok,” ujar Pater Petrus, kepada media ini, Senin (5/08/2019), ketika ditemui diruang kerjanya.

Menurutnya, lembaga pendidikan ini adalah sekolah hati dan sekolah pembinan karakter. Untuk mendukung program ini tahun depan semua siswa/i  SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang sudah wajib berasrama.

” SMA satu ini sangat cepat mendapatkan isin operasional karena berbasis asrama”, terangnya.

Satu dua bulan kedepan,sesuai rencana Provinsi SVD Timor lewat Yayasan Pendidikan Katolik Aryos,  kita akan membangun gedung SMA Santo Arnoldus Janssen sebenarnya, karena gedung yang sekarang digunakan adalah gedung tua yang rencananya untuk maksud yang lain. Setelah gedung SMA sudah siap baru digunakan tahun ajaran berikutnya, maka gedung lama akan dimanfaatkan sebagai asrama putra dan putri.

Provinsi SVD Timor, melalui Yayasan Pendidikan Katolik sedang berpikir sangat serius untuk pembangunan gedung SMA dan pengadaan asrama putra dan putri.

Selanjutnya Ia menambahkan, kedepannya SVD akan membangun dibagian barat dengan daya tampung 700 – 800 siswa dan angkatan pertama ini yang nantinya naik kelas 2 tahun depan akan pindah ke sana dan gedung lama ini akan menjadi asrama putra sedangkan gedung Biara Bruder Gregorius ( BBG)  dua lantai itu mungkin akan disulap menjadi asrama putri. Kebijakan Pimpinan SVD Timor dan Yayasan Aryos adalah segalanya.

” Untuk maksud tersebut, ditilik dari segi waktu maka sisa 2 bulan rencana di atas mestinya sudah tersedia,” jelas Pater Petrus.

Dikatakan, untuk lembaga pendidikan ini, kita membuka sekolah ini termasuk cukup gegabah dan rencana pembukaan sekolah ini sudah melewati 2 kapitel (sidang tertinggi SVD) sekitar 15 tahun lalu namun realisasinya baru sekarang.Bukan soal terlambat realisasi Kapitel SVD melainkan keberanian memulai adalah tindakan yang penuh hikmah dan kebijaksanaan.

Untuk diketahui, Sekolah ini baru empat bulan berjalan tapi sepertinya semacam tanda petik dipaksakan untuk memulainya namun  sebagai Misionaris SVD saya pun siap dengan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan SVD untuk menakhodai lembaga pendidikan ini.

“Jujur, saya bangga dengan semua ini. Pertama demi SVD, yang kedua saya bangga bertekad meneruskan karya perintisan Para Misionaris besar terdahulu dan ini adalah satu kewajiban yang harus dijalankan,” ungkap Pater Petrus.

Bagai mengejar waktu, meskipun  hanya empat bulan tapi saya menyambut dengan hati karena berhutang budi dan terpanggil untuk meneruskan karya perintisan ini.

Dikatakan, untuk misi besar ke depannya di titik ini, kami memulai dan Sekolah SVD ada disini tidak ada tendensi mau menghapus SMA mana pun yang sudah ada, bukan juga untuk bersaing tapi Sekolah SVD hadir di sini untuk meneruskan karya perutusan karya misioner SVD yang hari ini bekerja di 80 -an negara di mana tetap menggunakan nama SVD ( Societas Verbi Divini yang artinya Serikat Sabda Allah ) dengan tetap berkomitmen mewartakan Sabda Tuhan dan Sabda Tuhan ini bukan diteorikan lagi tapi harus bertindak dan berbuat. Selain itu sangatlah penting yakni turut serta secara ikhlas mewujudkan karya pastoral Gereja Lokal di mana SVD berada.

Masih dari Pater, dimanapun SVD berkarya dia tidak tergantung di langit, tetapi dia berpijak di tanah, di tanah itulah setiap Dioses atau Keuskupan yang dipimpin oleh seorang Uskup, merupakan lambang kehadiran Gereja Universal.

“Berawal dilereng gunung Lakaan tahun 1913 silam, kini berawal di Tuak Daun Merah Kupang dan kami siap menyambut 106 tahun mendatang dengan berbuat di titik dan di hutan ini dan bekerja sama dengan Dioses Agung Kupang, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan berbagai stakeholder lainnya,” ujar Pater Petrus.

SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang sangat terbuka untuk semua kalangan tanpa membedakan agama, suku, ras dan bagi mereka yang berkehendak baik welcome: your future is here!selamat datang di lembaga pendidikan ini masa depanmu ada di sini.

“Mau Agama Kristen, Islam, Hindu, Budha dan agama apapun yang sudah diakui Negara, SMA Santo Arnoldus Kupang mengucapkan welcome selamat datang,” ujar Pater Petrus.

Lanjutnya, saya tidak peduli apakah siswa/i itu memiliki nilai tinggi atau tidak tapi yang penting dirinya lulus dari SMP maka  silahkan datang saja di SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang ini karena inilah tempatmu untuk dibentuk lagi, menjadi cerdas dan berkharakter, bukan saja akan berkiprah di tingkat nasional melain juga di level internasional.

Pater Petrus menambahkan, karena waktunya yang begitu mepet maka murid yang kita terima pun juga sedikit untuk tahun ajaran kali ini, karena penyebaran informasinyapun juga sedikit kandas ditengah jalan sehingga kebanyakan tidak ada yang tahu tapi itu semua petunjuk Tuhan.

Dengan rinci Pater Petrus menjelaskan, untuk tahun ajaran ini, kita memperoleh 52 siswa dengan 3 kelas yakni kelas IPS, Bahasa dan kelas Mipa. Kegiatan sementara berjalan dengan sangat baik dengan tenaga pengajar berjumlah 22 orang guru dengan mayoritas perempuan, sedangkan guru laki-laki berjumlah 3 orang, ada 1 Satpam, 1 cleaning service, dan kegiatan seluruhnya sudah dibagi habis menurut masing-masing bidang studi dan berjalan dengan sangat baik.

“Kita sudah dua minggu kegiatan belajar mengajar dan sangat bagus, mulai dari pukul 07.15 sampai pukul 13.45 wita, roster pendidikan diberikan kepada setiap orangtua agar mereka mengatur waktu antar dan jemput anak, ” terangnya.

Selain itu juga semua fasilitas kita siapkan seperti kursi, meja, papan tulis, kantin dan perpustakaan sekolah serta fasilitas pendukung lainnya. Kita siapkan semua fasilitas sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan diadakan sesuai kebutuhan dan tuntutan kurikulum 2013 dan semuanya berjalan dengan baik.

Di bidang akademik, untuk saat ini setiap siswa/i sudah diwajibkan membeli sebuah buku pengetahuan umum sesuai dengan program pilihan yang ada kemudian siswa diwajibkan membaca dan meringkas yang dituntun  oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, walikelas dan guru bimbingan konseling.

Dengan pengawasan ini anak-anak akan membaca dan meringkas teratur dan jika setahun saja para siswa menghabiskan dua buah buku atau lebih itu sudah bagus dan hal ini  diwajibkan di SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang ini.

Selain itu juga tambah Pater Petrus, setiap siswa diwajibkan meminjam buku-buku bahasa ingris yang tersedia disini sekitar 16 ribu judul yang didatangkan langsung dari Amerika Serikat oleh Pater Feliks Mikel Kosat,SVD yang tadinya Perpustakaan Josef Freinademetz kita rubah menjadi perpustakaan SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang. Buku–buku bahasa inggris yang ada di perpustakaan SMA Santo Arnoldus Janssen ini wajib siswa pinjam dan terjemahkan.

“Mulai hari ini setiap siswa/i sudah diwajibkan meminjam sebuah buku bahasa inggris minimal 100 halaman dan wajib diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia,” terangnya.

Dijelaskan, selain para siswa/i bergaul dengan Profesor dan Doktor yangg menulis buku itu, anak – anak juga memahami ilmu besar yang ditulis Profesor dan Doktor itu tapi mereka juga mengetahui arti kosakatanya.

“Belajar kosakata yang benar  itu seperti ini tapi dengan demikian sesungguhnya para siswa sudah menjadi Doktor untuk dirinya sendiri, sudah kaya kosakata karena belajar melalui konteks maka hal ini merupakan suatu kewajiban bagi siswa/i SMA Santo Arnoldus Janssen,” terangnya.

Setahun satu buku dan kalau lebih itu lebih bagus, taraf pertama para siswa/i baru datang dari berbagai SMP pasti membaca satu kalimat sudah bosan tapi itu tidak mengapa.Para guru saya sudah minta untuk terus mendampingi siswa/i dan  walaupun sehari hanya mampu menerjemahkan satu dua kalimat saja itu sudah sukses dan jika terus begitu dan sampai pertengahan buku mungkin mereka tidak buka kamus lagi karena perbendaharaan kosakatanya sudah ada dikepalanya.

“Sesuatu yang awal selalu lama tapi lama-lama akan cepat asal tekun dan nekad. Lebih baik menjadi kutu buku daripada mati kutu,” tutup Pater Petrus.( Agus Kefi)

2 total views, 2 views today

Related posts

Leave a Comment