Dewan Pimpinan Cabang GMNI Kefamenanu Melantik 205 Anggota Baru

Kefa,SuryaKupang – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kefamenanu pada kamis 20 Desember 2019 melantik 205 anggota baru.

Pelantikan ke-205 anggota baru tersebut berlangsung di Aula kantor BAPELITBANG TTU di KM. 9 jurusan Kupang.

Ketua DPC GMNI Cabang Kefamenanu, Francis Cristiano Ratrigis, dalam sambutannya menyentil beberapa isu penting yang terjadi di TTU, diantaranya menyoroti tentang kisruh antara pihak Eksekutif dan Legislatif yang sempat menarik perhatian publik.

“Terhadap kisruh tersebut maka Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Kefamenanu mengingatkan agar kedua lembaga yang terhormat ini tetap fokus dan konsen bekerja untuk kepentingan masyarakat TTU secara keseluruhan sehingga rakyat tidak menjadi tumbal dari konflik kepentingan yang sementara terjadi,” kata Ratrigis.

Selain itu GMNI melalui ketua DPC juga meminta kepada penyelenggara Pemilu yakni KPUD dan Bawaslu TTU agar dapat bekerja secara baik dan transparan serta mengawal semua tahapan pelaksanaan agenda politik yang akan dilaksanakan.

Sementara itu Paulinus Lape Feka yang mewakili Alumni GMNI dalam sambutannya menyampaikan bahwa, orang yang hidup dalam organisasi adalah orang yang memiliki harapan.

“Ketika kita terasing dalam sebuah keramaian sosial maka kita sedang menikmati kelainan sosial. Oleh karena itu satu hal yang perlu menjadi prinsip bersama adalah organisasi harus menjadi rumah bagi kaum intelektual untuk terus berekspresi dan terus membenahi diri menyambut masa depan,” kata Polce.

Terhadap jumlah 205 anggota baru yang dilantik Polce melihat bahwa ini adalah potensi sekaligus beban. Menurut Feka ke-205 anggota baru itu akan menjadi beban terutama bagi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) karena DPC bertanggungjawab untuk membenahi generasi-generasi ini agar pada suatu saat nanti mereka tampil sebagai orang-orang yang betul-betul berideologikan Marhaenisme.

Hal lain yang juga disentil oleh Polce adalah terkait dinamika-dinamika yang terjadi akhir-akhir ini baik secara nasional maupun lokal. Terhadap dinamika-dinamika ini Polce menyampaikan bahwa tidak ada larangan secara organisasi untuk turut serta dalam dinamika. Namun catatannya adalah dinamika-dinamika tersebut perlu dinikmati dalam kajian yang sistematis dengan tetap mengacu pada ideologi marhaenisme yang dianut oleh GMNI.

Feka juga mengatakan bahwa dalam posisi sebagai mahasiswa, sering ada pelabelan kepada mahasiswa sebagai agen of change dan Moral Force.

Terhadap pelabelan ini Polce menegaskan bahwa dalam konflik berbagai macam kepentingan maka mahasiswa harus tampil dengan menonjolkan diri sebagai panutan sehingga menempatkan perbedaan-perbedaan pada nilai yang benar. Supaya semua ini bisa terjawab maka hal yang harus dilakukan adalah memperdalam referensi dan membangun diskusi dengan banyak kalangan.( Juven Abi)

10,468 total views, 1 views today

Related posts

Leave a Comment