Masyarakat Desa Kenotan Nyatakan Tekad Berjuang Bersama Untuk Persoalan Wai Noret

Kupang,SuryaKupang – Dugaan pelaksanaan proyek SPAM Wainoret dikerjakan tidak sesuai dengan perencanaan teknis dan terindikasi korupsi yang mengakibatkan air tidak keluar, tidak saja datang dari kelompok mahasiswa asal Adonara Tengah, HIPANARA Kupang.

Masyarakat enam desa penerima manfaat proyek SPAM yang menelan anggaran dua miliar lebih itu pun menyatakan dukungan terhadap apa yang dilakukan oleh HIPANARA Kupang melalui jalur hukum.

Selain itu, masyarakat menyatukan tekadnya mengkonsolidasikan gerakan bersama menuntut pemerintah daerah Kabupaten Flores Timur untuk bertanggungjawab terhadap persoalan air yang sejak dibangun tahun 2017 lalu dan merusak aliran air yang sebelumnya dinikmati masyarakat.

Masyarakat bahkan mempertanyakan, Wai Noret yang pengadaan dan pengelolaan sebelumnnya oleh Gereja Paroki Lite dengan menggunakan anggaran di bawah Rp. 500.000 (lima ratus juta) airnya mengalir dan dinikmati masyarakat. Tetapi setelah proyek peningkatan oleh pemerintah daerah Flores Timur yang menelan anggaran 2 miliar lebih, airnya tidak mengalir dan tidak lagi dinikmati masyarakat.

Hal ini terungkap dalam pertemuan yang diselenggarakan Badan Permusyawaratan Perwakilan (BPD) Desa Kenotan bersama HIPANARA Kupang di Desa Kenotan akhir Desember lalu. Pertemuan akbar itu dihadiri tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan masyarakat umum.

Dalam sambutan pembukaan, Ketua BPD Desa Kenotan, Alex Pati Raran mengatakan bahwa pertemuan itu dilaksanakan atas kehendak Lewo tanah dan sebelumnya tidak direncanakan. Menurutnya, masyarakat selama ini sudah sangat menderita akan kebutuhan air bersih.

“Pertemuan ini khusus membahas air minum SPAM Wai Noret, yang sejak dibangun tahun 2017 lalu, airnya tidak jalan. Kehidupan kita sebagai masyarakat sudah sangat menderita. Air minum sejak pelaksanaan proyek SPAM Wai Noret, masyarakat pakai beli 3 jerigen 10.000. 1 (satu) kepala keluarga dalam sebulan, mengeluarkan ratusan ribu bahkan juta rupiah hanya untuk kebutuhan air minum,” ungkap Alex.

Alex melanjutkan bahwa penderitaan masyarakat itu karena ditipu oleh pemerintah daerah dengan pelaksaan proyek SPAM ini.

“Mengikuti berita media masa dan apa yang disampaikan anak-anak HIPANARA, kita ini di tipu. Perencanaan teknis tidak diikuti oleh pelaksana proyek, akibatnya air tidak keluar. Dan karena itu, hari ini kita duduk bersama membahas persoalan Wai Noret, supaya kita jangan terus ditipu dan harapannya adalah air harus sampai lagi di wilayah kita. Proses hukum yang dilakukan HIPANARA Kupang biarkan terus berjalan dan kita masyarakat berkewajiban menuntut pemerintah daerah Flores Timur mengembalikan air Wai Noret mengalir seperti sebelum proyek SPAM berjalan,” tegas Alex Pati Raran.

Tak hanya itu, Alex menyampaikan apresiasinya kepada HIPANARA Kupang yang peduli terhadap penderitaan masyarakat di wilayah Kecamatan Adonara Tengah.

“HIPANARA Kupang itu, anak-anak kita. Mereka tinggal di tempat lain, tetapi karena kepedulian terhadap Lewo Tanah, terhadap kita sebagai bapak ibunya, mereka memperjuangkan apa yang sedang dibutuhkan oleh kita di sini. Ini sesuatu yang luar biasa dan kita harus mendengar apa yang akan disampaikan dan dukungan kita untuk berjuang bersama-sama,” ungkap Alex.

Dalam pertemuan yang dipandu anggota BPD Desa Kenotan, Yohanes Mau itu mengemuka pendapat masyarakat yang umumnya merasa kesal dengan pelaksanaan proyek SPAM Wai Noret yang bukan mendatangkan air tetapi menghilangkan aliran air yang sebelumnnya dinikmati masyarakat. Mereka mengatakan bahwa kehidupan masyarakat yang sudah susah dibebani lagi dengan kesulitan air minum bersih. Masyarakat bukan saja Desa Kenotan tetapi 5 desa lain penerima manfaat air minum bersih Wai Noret , untuk memenuhi kebutuhan air bersih harus membeli per jerigen.

Tokoh masyarakat Desa kenotan, Sabon Ama Korebima menyatakan dukungan penuhnya terhadap kiat masyarakat mempertanyakan dan menyuarakan kepentingannya tentang air minum bersih di wilayah Adonara Tengah yang saat ini dalam kesulitan.

“Semua yang kita bicarakan ini kami sangat dukung. Mari kita maju bersama untuk memperjuangkan air minum Wai Noret ini. Masyarakat kita sudah susah ditambah lagi air pakai beli. Ini sudah sangat merugikan masyarakat. Karena itu, saya mengajak kita bersama-sama berjuang. Kita sudah memulainya dengan duduk membahas persoalan air minum hari ini, dan saya mendukung langkah-langkah selanjutnya untuk kepentingan kita bersama,” tegas mantan Kepala Desa Kenotan tahun 1970-an itu.

Tak hanya Sabon Ama, Nikolaus Doni Korebima pun menyatakan dukungan penuh terhadap apa yang dilakukan HIPNARA Kupang dan pertemuan yang diselenggarakan BPD Desa Kenotan itu dan mengharapkan sama-sama memperjuangkan air minum bersih dapat dinikmati kembali masyarakat Desa Kenotan.

“Luar biasa apa yang sudah dilakukan oleh anak-anak kita HIPANARA Kupang. Kami sebagai masyarakat memberikan apresiasi dan dukungan apa yang sudah diperjuangkan, dengan melaporkan kasus Wainoret ke pihak Kejakasaan Tinggi Kupang. Sebagai bentuk dukungan kami siap melakukan hal-hal secara bersama-sama untuk mengungkap kasus ini dan mengharapkan perjuangan kita bersama itu juga mendesak pemerintah untuk air Wainoret kembali dinikmati masyarakat,” ujar Niko Doni.

Pun halnya, mantan DPRD Flotim antar waktu, Fery Tukan dan tokoh masyarakat lainnya menyatakan dukungan dan tekad bersama memperjuangkan air minum bersih bagi masyarakat wilayah Adonara Tengah. Dikatakan, bahwa air (wai) minum bersih dalam proyek pembangunan di Flores Timur selalu menimbulkan permasalahan. Disebutkan bahwa pipa terpasang tetapi setelah selesai pelaksanaan proyek air (wai) tidak jalan. Harapannya adalah perjuangan bersama yang dilakukan BPD Desa Kenotan ini terus berlanjut hingga air dinikmati masyarakat.

Tokoh Masyarakat, Yohanes Boli Bura diakhir dialog memberikan peneguhan kepada seluruh masyarakat yang hadir bahwa pertemuan pembahasan Wai Noret yang diselenggarakan BPD Desa Kenotan, telah membuka mata dan telinga masyarakat . Hal itu dikatakannya sebagai harapan dan dukungan Lewo Tanah untuk memperjuangan kebutuhan masyarakat umum.

“Ini adalah harapan kita bersama bahwa penderitaan masyarakat terutama berkaitan dengan air minum harus diselesaikan dengan cara sama-sama kita berjuang. Lewo Tanah, ribu ratu mendukung pertemuan dan perjuangan tentang Wai Noret ini. Anak-anak kita berjuang dengan cara mereka dan kita sebagai ibu bapaknya harus memberikan dukungan dengan terlibat berjuang bersama-sama kedepannya,” tegas Boli Bura.

Dalam kesempatankan itu, Kepala Desa Kenotan, Damianus Keda, dalam sambutannya menyampaikan bahwa persoalan air minum adalah persoalan multi kompleks dan perjuangan masyarakat jangan dipolitisir untuk kepentingan tertentu. Dia berharap apa yang disuarakan bersama ini dapat menuai harapan yakni air minum bersih bisa dinikmati warganya.

Damianus pun menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi pertemuan lanjutan bersama 5 desa lain penerima manfaat Proyek Peningkatan SPAM Wainoret.

Tak hanya kesiapan kepala desa kenotan untuk memfasilitasi pertemuan lanjutan, pihak Gereja Paroki Lite, ditunjuk untuk memfasilitasi pertemuan lanjutan ini. Pertemuan akan dilakukan setelah musim hujan berlalu.(Yogi Peka)

14,494 total views, 1 views today

Related posts

Leave a Comment