Emanuel Bria:Koperasi Jasa Ekonomi Digital Indonesia Bukan Koperasi “Abal-Abal”

Malaka,SK- Hadiri pagelaran ekonomi kreatif di Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tanggal 8 Februari 2020, Ketua Koperasi Digital Indonesia Cabang Provinsi NTT, Emanuel Bria meyakinkan sekitar 1000 peserta untuk tidak pesimis.

Emanuel atau yang dijuluki EB bahkan menegaskan bahwa lima tahun ke depan tingkat ekonomi peserta koperasi sudah bisa melonjak drastis. EB membakar semangat ribuan peserta yang masing-masing membawa kain tenun untuk dipamerkan di Gedung Glory Hall – Betun – Kabupaten Malaka.

“Jangan takut dengan Koperasi Digital Indonesia karena ini bukan hanya di Malaka tetapi di seluruh Indonesia. Pelindungnya saja Bapak Presiden Joko Widodo. Jadi legalitasnya sah dan ini adalah koperasi yang bukan abal-abal atau kaleng-kaleng,” ucap EB di atas panggung, yang disambut gemuruh tepuk tangan 1000 peserta.

Kenapa jangan takut? Karena pasar dari hasil kerja anggota koperasi sudah jelas. Masyarakat tidak perlu takut hasil kerajinannya tidak terjual, atau khawatir terhadap nilai jual yang kecil. Karena pada prinsipnya, di era digital ini harga saing produk yang dijual sudah relative sama dengan harga di daerah-daerah maju, tandas EB.

Berikutnya EB menyinggung bahwa di NTT memang saat ini menjadi gudang koperasi-koperasi. Tapi yang membedakan KDI dengan koperasi lainnya adalah bukan soal simpan uang dan pinjam uang di koperasi. Kalau KDI justru memulai dari apa yang kita punya, contohnya kalau kita punya tenun ya itu yang akan kita jual untuk menghasilkan uan

“Senada dengan ucapan EB, Ketua KDI Malaka Ibu Venny menjelaskan bahwa Koperasi Digital Indonesia khususnya di Malaka sudah bergerak selama ini dan sudah terbentuk 64 kelompok dimana tiap kelompok berisi 10 orang. Kelompok penenun ini memproduksi kain tenun, kemudian pemasarannya akan diusahakan oleh koperasi secara bersama. Terkait produk, para pembeli produk dari KDI Malaka pun tidak perlu merasa khawatir tentang kualitas produk yang dijual. Pasalnya, tim Koperasi selalu memberikan pengawasan dan pendampingan yang rutin kepada para anggota koperasi,” kata Venny.

Pantauan media ini, adapun 1000 peserta yang antusias ingin menjadi anggota Koperasi Digital Indonesia datang dari berbagai kecamatan dari 12 jumlah kecamatan di Kabupaten Malaka. Menariknya, masing-masing kecamatan di Malaka ternyata sudah memiliki kelompok Ibu-Ibu penenun, pembuat cenderamata dan oleh-oleh khas Malaka. Khusus tenun, hasil dari kerajinan Ibu-ibu di tiap kecamatan itulah yang dipamerkan sekaligus membalut tubuh 1000 peserta ini saat hadir di acara Pagelaran Ekonomi Kreatif.

Pagelaran ekonomi kreatif untuk pertamakalinya di Kabupaten Malaka ini diselenggarakan atas kerja sama Koperasi Digital Indonesia dengan Yayasan Kroman Malaka.

Fridolin Berek, pendiri dan penasehat Yayasan Kroman Malaka menegaskan bahwa kerja sama ini terjadi karena adanya keprihatinan yang sama terhadap perekonomian masyarakat Malaka. Oleh karena itu, mimpi KDI Malaka dan Yayasan Kroman Malaka ke depan adalah menjadikan kabupaten Malaka sebagai sentra Tenun atau Bursa Tenun Malaka yang kaya akan motif.
Sayangnya, acara besar untuk memberi stimulus terhadap pergerakan ekonomi di Kabupaten pemekaran dari Belu ini tidak dihadiri Pemerintahan daerah setempat. Padahal, panitia mengaku telah melayangkan surat undangan kepada pihak pemerintah.

Selanjutnya, Mama Aleta Baun, Penerima Piagam Penghargaan dari Barrack Obama Hadir di Pagelaran Ekonomi Kreatif Malaka
Siapa yang tak kenal Mama Aleta. Kelahiran Mollo, Kabupaten Timur Tengah Selatan-NTT ini adalah aktivis lingkungan hidup yang pernah terbang ke negeri Paman Sam untuk menerima penghargaan Goldman Enviromental Prize.

Sabtu 8 februari 2020 di Kabupaten Malaka–NTT, Mama Aleta ternyata menjadi salah satu narasumber yang didaulat untuk membakar semangat 1000 peserta yang hadir. Bagi Mama Aleta yang sangat gembira karena peserta yang hadir kebanyakan dari perempuan, ekonomi Malaka akan berubah dan itu dimulai dari gerakan Ibu-ibu.

Ini bukan tentang politik, tapi ini tentang hak masyarakat. Tenun Malaka akan maju jika tidak adanya pengrusakan lingkungan hidup. Pasalnya kain tenun yang berkualitas justru diproduksi dengan menggunakan bahan-bahan alami di lingkungan sekitar. Karena itu saya menghimbau kepada mama-mama, jangan sekali-kali biarkan orang lain kelolah kampong kita. Kalau orang merusak alam, kita patut lawan.
Bagi Mama Aleta, jika hutan-hutan sudah ditebang, bagaimana dengan bahan untuk pembuatann tenun? Oleh karena itu, dihadapan 1000 peserta, Mama Aleta menegaskan untuk berani melawan pihak mana pun yang melakukan pengrusakan lingkungan hidup. Karena Malaka tidak hanya harus dijaga tradisi motif kain tenunnya yang kaya tapi juga perlu dijaga lingkungannya.

Selanjutnya Emanuel Bria berkomitmen untuk kembalikan Adat Malaka pada aturannya yang tepat.

Usai menghadiri Pagelaran Ekonomi Kreatif yang diselenggarakan Koperasi Digital Indonesia dan Yayasan Kroman Malaka, pada Sabtu 8 februari 2020, Emanuel Bria yang juga sedang berjuang untuk menjadi Bupati Malaka periode 2020 – 2025 berkunjung ke rumah adat Laran, Betun, Kabupaten malaka.

EB, yang adalah putera asli Malaka dan merupakan turunan Raja Rabasa, meyakini bahwa adat adalah bagian dari hidup yang tidak boleh diabaikan apalagi sampai ditinggalkan. Karena itu setiap kali berkunjung ke Malaka, EB selalu menyempatkan waktu untuk melakukan prosesi adat demi menghargai warisan leluhur yang telah turun-temurun.

Ketika ditanya kenapa rumah adat di Laran yangdikunjungi, EB menjelaskan bahwa di tempat ini lah sebetulnya pusat sebagian besar kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara Timur berasal. Laran adalah pusat kerajaan Wewiku-Wehali yang terus dijaga sampai saat ini.
Mungkin selama ini masyarakat dibuat rancu karena banyak dari pihak tertentu yang mengklaim pusat kerajaan Malaka berada di tempat lain, tapi sesungguhnya di sinilah tempatnya. Maka kita harus memiliki tanggung-jawab untuk mengabarkan kebenaran ini kepada siapapun, apalagi kepada masyarakat Malaka.(Tim/AK)

3,132 total views, 2 views today

Related posts

Leave a Comment