Budidaya ” Maek Bako” Menjanjikan dan Dongkrak Ekonomi Keluarga

Belu,SK – Senin, (10/02/2020) Maek bako atau Porang adalah salah satu jenis tanaman umbi-umbian yang sudah dikenal masyarakat Kabupaten Belu sejak lama. Tanaman yang tumbuh liar ini awalnya dianggap sebagai tanaman pengganggu bagi tanaman palawija milik masyarakat sehingga harus dibasmi.

Namun Seiring dengan perkembangan jaman dimana peradapan bangsa– bangsa di dunia mulai saling mengenal satu sama lain maka terkuaklah informasi bawa tanaman ini ternyata menjadi salah satu bahan makanan pokok bagi masyarakat bangsa Jepang, Taiwan dan Korea, karena didalamnya mengandung karbohidrat yang tinggi dan juga menjadi bahan baku kosmetik.

Di awal tahun duaribuan setelah ada pengusaha di Kabupaten Belu tertarik untuk membeli umbi maek bako barulah masyarakat Belu sadar ternyata tumbuhan ini mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Semenjak maek  bako disebut sebagai salah satu  jenis tanaman yang akan dikembangkan dalam janji kampanye dari Bupati Wilybrodus Lay, SH dan Wakil Bupati Belu terpilih Drs.J.T Ose Luan pada tahun 2015 silam, ada masyarakat yang secara mandiri sudah mencari bibit di hutan kemudian di tanam di Halaman rumah dan di kebun mereka sendiri untuk dikembangkan.

Budidaya Maek Bako ini semakin berkembang saat Pemerintah Kabupaten Belu mengelontorkan sejumlah angaran untuk pengadaan anakan maek bako untuk dibagikan kepada masyarakat terutama kelompok tani agar mereka dapat menanam pada lahan yang telah disediakan secara swadaya oleh para petani baik secara kelompok maupun perorangan.

Program maek bako atau porang yang dicetuskan oleh Bupati Willybrodus Lay, SH dan Wakil Bupati Belu Drs. J. T. Ose Luan ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perubahan pola pikir masyarakat kabupaten Belu dalam upaya peningkatan ekonomi keluarga.

Tumbuhan yang selama ini tumbuh liar di hutan-hutan dan hanya dijadikan sebagai makanan ternak akirnya bisa mendongkrak animo masyarakat untuk membudidayakannya setelah para petani tahu mamfaat dan pengaruhnya bagi penghasilan dalam mengembangkan ekonomi dalam rumah tangga mereka.

Julianus Ati Bau, S.Sos salah satu petani Maek Bako mengungkapkan awalnya dirinya tidak tertarik untuk mengembangkan Maek Bako ini oleh karena dirinya merasa dalam mengembangkan maek bako ini agak rumit namun dengan adanya banyak informasi yang diperolehnya dirinya mencoba mengembangkannya.

“Awalnya saya pesimis karena sistim pengeringan dan harga jualnya yang saya anggap rumit, namum setelah saya mencoba menggali sendiri di hutan, mengeringkan dan menjual ke toko terdekat baru saya sadar kalau maek bako atau porang ini sangat besar manfaatnya bagi peningkatan Ekonomi keluarga,” ungkap Bau.

Sebelumnya saya hanya menggali sebanyak 24 pohon maek Bako di hutan terdekat. Saya keringkan dalam waktu 3 hari lamanya dan ternyata beratnya mencapai 16 kilo gram. Dengan harga Rp.45.000/kg (empat puluh lima ribu rupiah) saat itu saya mendapatkan uang sebanyak Rp.720.000, ujar mantan Kepala Desa Nualain periode tahun 2010-2016 ini.

Lanjutnya, ” Maek bako ini adalah salah satu jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan masuk dalam salah satu program pemerintah Kabupaten Belu sehinga harus dikembangkan dengan membagikan bibit kepada para petani karena bibit yang sementara ini dikembangkan oleh pemerintah belum dibagikan secara merata kepada masyarakat dan Ia berharap untuk ke depan tidak hanya sekedar membagi bibit kepada para petani akan tetapi harus disertai dengan pendampingan dan sosialisasi oleh dinas terkait tentang teknis budidaya Maek Bako yang baik,” ujar Julianus ketika ditemui media ini di kediamannya di Dusun Sana Bibi, Desa Dafala Kecamatan Tasifeto Timur (Qmau)

41,655 total views, 2 views today

Related posts

Leave a Comment